SMANMBA.SCH.ID - Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh menggelar kegiatan Workshop dan Pertunjukan Mop-Mop di SMA Negeri Modal Bangsa Arun, Selasa (28/4/2026). Kegiatan yang berlangsung di gedung auditorium sekolah ini diikuti oleh siswa kelas X sebagai bagian dari upaya revitalisasi seni tradisi daerah.
Workshop ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat bertajuk Revitalisasi Mop-Mop sebagai Warisan Budaya Takbenda Aceh Utara melalui Penguatan Peran Sanggar Mop-Mop Muara Batu . Kegiatan berlangsung sejak pagi hingga sore hari, dimulai dengan pendaftaran peserta, pembukaan, pertunjukan, hingga sesi workshop dan penutupan .

Dalam sambutannya, Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Maimun, S.Pd.I., M.Pd., menekankan pentingnya menjaga dan melestarikan seni tradisi daerah. Ia menyampaikan bahwa keberlangsungan budaya lokal kini berada di tangan generasi muda, sehingga kegiatan seperti ini menjadi sangat relevan untuk menumbuhkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap warisan budaya.
Hadir sebagai pemateri, Rasyidin, M.Sn., dari LPPM ISBI Aceh yang dikenal sebagai peneliti Mop-Mop. Ia secara konsisten memperkenalkan kembali kesenian Mop-Mop yang hampir punah, tidak hanya di Aceh tetapi juga di berbagai daerah di Indonesia. Dalam pemaparannya, Rasyidin menjelaskan bahwa Mop-Mop merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional Aceh yang mengandung unsur humor, kritik sosial, serta nilai-nilai kehidupan masyarakat.
Kegiatan ini juga menghadirkan seniman senior Mop-Mop, Syeh Muhammadiah, yang telah berusia lebih dari 70 tahun dan berasal dari Sanggar Muara Batu, Aceh Utara. Kehadirannya menjadi daya tarik tersendiri, sekaligus bukti nyata kesinambungan tradisi lintas generasi. Ia turut menampilkan pertunjukan Mop-Mop yang menggambarkan bentuk asli kesenian tersebut.

Secara historis, Mop-Mop pernah mencapai masa kejayaan pada era 1960-an hingga 1970-an. Namun, kesenian ini mulai meredup seiring berbagai faktor, seperti situasi konflik dan operasi militer di Aceh yang membatasi ruang ekspresi seni, serta perubahan zaman dengan hadirnya media modern seperti radio, televisi, dan internet.
Sebagai bagian dari warisan budaya tak benda, Mop-Mop tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga merepresentasikan identitas dan kearifan lokal masyarakat Aceh. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya antara lain kebersamaan di dalam keluarga, penghormatan terhadap adat dan norma sosial, serta sebagai media penyampaian pesan moral, nasihat, dan kritik sosial secara halus dan komunikatif.
Selain itu, Mop-Mop juga mengandung nilai edukatif, di mana cerita dan dialog yang dibawakan seringkali menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat, sehingga menjadi sarana pembelajaran yang kontekstual bagi generasi muda.
Oleh karena itu, upaya revitalisasi melalui pendidikan dan pelibatan generasi muda menjadi langkah strategis, tidak hanya untuk menjaga keberlanjutan kesenian ini, tetapi juga untuk memastikan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan relevan di masa kini.
Melalui workshop ini, para siswa tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga terlibat dalam praktik dan pemahaman tentang Mop-Mop. Diharapkan, kegiatan ini mampu menumbuhkan minat serta kepedulian generasi muda terhadap pelestarian budaya daerah, sekaligus mendorong lahirnya regenerasi pelaku seni tradisional di Aceh.
